Peluit akhir bergema di seluruh Anfield, menandai berakhirnya musim 2025/26 Liverpool. Pada momen ini, berakhir pula kebersamaan Mohamed Salah selama sembilan tahun bersama klub.
Sembilan tahun lalu, tak banyak orang yang percaya bahwa penyerang asal Mesir ini, yang sempat dicap sebagai “kegagalan Premier League” setelah pindah dari Roma, bisa mengukir warisan luar biasa di Anfield. Banyak yang bahkan mengira pemain muda yang berasal dari sebuah desa kecil di tepi Sungai Nil itu tak akan mampu beradaptasi lagi dengan sepak bola kasta tertinggi Inggris setelah mengganti seragam birunya dengan merah.

Sembilan tahun kemudian, saat Salah melambaikan salam perpisahan kepada para penggemar dalam seragam merahnya, semua orang menyadari bahwa ia bukanlah pemain yang perlu membuktikan diri dari awal lagi. Ia adalah saksi sekaligus pelaku era keemasan yang gemilang, sekaligus pencipta sebuah legenda sepak bola yang tak terlupakan.
Dari Basel ke Kejayaan di Championship
Ia membantu Basel meraih kemenangan kandang dan tandang atas Chelsea di UEFA Champions League, lalu bergabung dengan Chelsea dengan biaya 11 juta pound. Setelah hanya mencetak 2 gol dalam 19 penampilan, ia terpaksa pindah ke Italia. Salah kembali menemukan ketajamannya dan menjalani kebangkitan karier yang luar biasa di Serie A.
Selama dua musim di Roma, ia mencetak 34 gol dalam 83 pertandingan. Ia perlahan mendapatkan kembali naluri menyerang tajam yang sempat hilang selama masa baktinya di Chelsea. Pemain Mesir yang nyaris tenggelam dalam ketidakjelasan di Stamford Bridge itu justru berkembang pesat di bawah hembusan angin Mediterania di Stadio Olimpico.

Ketika Liverpool merekrut Salah dari Roma dengan harga 42 juta euro pada 2017, banyak orang masih memandang sinis penyerang yang pernah dicap sebagai flop Premier League. Namun, Salah membungkam semua keraguan itu dalam waktu kurang dari satu musim.
Ia mencetak gol pada debutnya melawan Watford. Dalam derby Merseyside pertamanya melawan Everton, ia mencetak gol spektakuler yang kemudian memenangkan Puskas Award. Ia menerima bola dengan membelakangi gawang, berputar melewati Martina, lepas dari kawalan Gueye, lalu melepaskan tembakan kaki kiri yang presisi ke sudut jauh.
Salah membukukan 44 gol dalam 52 pertandingan di semua kompetisi, termasuk 32 gol dalam 38 laga Premier League. Statistik fenomenalnya mengakhiri semua keraguan. Tak ada yang mempertanyakan keputusan transfer klub, maupun menganggap kedatangannya sebagai upaya mengambil kembali pemain buangan Chelsea.
Nyanyian yang menggema dari tribun Kop pada paruh kedua musim berbicara dengan sendirinya. Salah tak pernah perlu membuktikan nilainya lagi. Kepulangannya bukanlah kesempatan kedua; ia datang untuk merebut kejayaan tertinggi.
Namun, jalannya menuju kehebatan sama sekali tidak mulus.
Final UEFA Champions League 2018 antara Liverpool dan Real Madrid di Kyiv diprediksi menjadi pertandingan penentu karier Salah. Akan tetapi, sebuah pelanggaran keras dari lawan membuat malam itu berubah menjadi pahit bagi seluruh skuad Liverpool.
Salah ditarik keluar lebih awal setelah dijatuhkan Sergio Ramos, yang berujung pada kekalahan Liverpool. Cedera itu juga memaksanya absen pada laga pembuka fase grup Mesir di Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia.

Ia hanya bisa menyaksikan dari bangku cadangan saat Mesir menelan kekalahan melalui sundulan José Giménez melawan Uruguay. Tak ingin berdiam diri, Salah tetap bermain dalam kondisi cedera pada laga berikutnya melawan Rusia. Ia memenangkan dan mengeksekusi penalti dalam kekalahan 1-3. Ia juga mencetak gol chip cerdik pada menit ke-22 melawan Arab Saudi, meski Mesir kalah 1-2.
Setahun kemudian, final Champions League digelar di Madrid. Bertekad mengubah kesedihan masa lalu menjadi motivasi, Salah langsung memberi dampak. Kurang dari dua menit laga berjalan, umpan silang Sadio Mané mengenai lengan Moussa Sissoko, dan Salah dengan tenang mengeksekusi penalti untuk memberi Liverpool start sempurna.
Salah berlari ke bendera sudut untuk merayakan bersama rekan-rekannya, sebuah momen yang terukir dalam ingatan para penggemar. Gol itu lebih dari sekadar perayaan; itu adalah kelegaan besar setelah memendam luka selama satu tahun penuh.
Liverpool mengalahkan Tottenham Hotspur 2-0 lewat penalti Salah dan gol Divock Origi pada menit ke-87. Setelah 14 tahun panjang, klub kembali ke puncak sepak bola Eropa dan mengangkat trofi UEFA Champions League keenam mereka.
Lalu datanglah musim 2019/20 yang penuh kenangan dan dicintai semua pendukung Liverpool.
Liverpool mengunci gelar Premier League tujuh laga lebih cepat di tengah stadion yang kosong, mengakhiri puasa gelar klub selama 30 tahun dengan cara yang khas.
Jordan Henderson mengangkat trofi Premier League dikelilingi Salah dan rekan-rekan setim lainnya. Tak ada sorak-sorai menggelegar, hanya kembang api indah yang menerangi langit.
Seberapa Besar Arti Salah bagi Liverpool
Selama sembilan musim bersama Liverpool, Salah mencetak 257 gol di semua kompetisi, menempatkannya di peringkat ketiga daftar pencetak gol sepanjang masa klub, hanya di belakang Ian Rush dan Roger Hunt. Dalam sejarah Premier League, hanya Alan Shearer, Harry Kane, dan Wayne Rooney yang mencetak lebih banyak gol darinya.
Steven Gerrard pernah bertanya kepada Salah bagaimana ia ingin dikenang. Salah menjawab: “Saya ingin orang-orang menempatkan saya di antara pemain terbaik dalam sejarah Liverpool. Saya berharap pencapaian saya bisa melampaui Anda dan Kenny Dalglish.”
Meski kata-kata itu terdengar berani, pernyataan Trent Alexander-Arnold dalam video perpisahan sepenuhnya mengakui statusnya. “Dulu saya menganggap Gerrard sebagai pemain terbaik dalam sejarah klub, tetapi sekarang saya dengan tegas menempatkan Salah sejajar dengannya sebagai legenda sepanjang masa Liverpool.”
Salah memiliki karakteristik bermain yang sangat khas. Ia menggiring bola di sisi kanan dan melengkungkan tembakan kaki kirinya ke sudut jauh. Para komentator menyebut area ini sebagai “wilayah Salah”, sementara para suporter menjuluki kaki tembaknya sebagai “Kaki Kiri Sang Firaun”.
Semua orang bisa memprediksi langkah berikutnya, tetapi tak ada bek yang mampu menghentikannya. Kekuatan Salah bukan terletak pada trik indah atau tembakan keras, melainkan pada kontrol ekstremnya terhadap gerakan tubuh.

Pelatih pribadinya menyusun program latihan yang rumit untuk menstabilkan pernapasan dan keseimbangannya saat sprint berkecepatan tinggi. Perangkat krioterapi dan ruang hiperbarik di kediamannya menjaganya tetap berada dalam kondisi fisik puncak sepanjang tahun.
Saat menjalankan puasa Ramadan dari fajar hingga matahari terbenam, Salah bahkan pergi ke pusat kebugaran pada pukul dua pagi demi meningkatkan stamina. Alisson Becker berkomentar: “Ia menghabiskan waktu yang luar biasa banyak untuk latihan kebugaran. Ia tidak pernah hanya mengandalkan bakat dan memiliki tekad kuat untuk terus memperbaiki diri.”
Ketekunan tanpa lelah itu membawanya meraih kesuksesan luar biasa di Anfield. Namun, mereka yang mengira pengaruhnya hanya terbatas di atas lapangan jelas meremehkan kekuatan Sang Firaun Mesir.
Di Toxteth, sebuah distrik Liverpool yang menjadi rumah bagi banyak imigran Somalia, Salah berperan sebagai simbol yang menjembatani perbedaan budaya. Penampilan gemilangnya menghubungkan komunitas dengan beragam keyakinan. Topik keagamaan jarang dibicarakan di antara para penggemar lokal sebelum kedatangannya, dan suasana pun mengalami perubahan besar sejak saat itu.
Sebuah studi yang dilakukan Stanford University menunjukkan tingkat kriminalitas lokal turun 18,9 persen setelah Salah bergabung dengan Liverpool. Di Mesir, kampanye anti-narkobanya melipatgandakan jumlah panggilan ke hotline nasional untuk kecanduan. Tak terhitung jumlah pemilih yang bahkan menuliskan namanya dalam pemilihan presiden Mesir 2018, meski ia tidak ikut serta.
Inilah Mohamed Salah, pesona tak tertandingi Sang Firaun Mesir.

Meski meraih begitu banyak penghargaan, ia tetap menyimpan rasa cinta yang tulus kepada Liverpool layaknya seorang suporter setia.
Salah beberapa kali tersedu dalam sebuah wawancara bersama Gerrard. “Saya memberi tahu staf dan manajemen klub bahwa tim membutuhkan panutan baru setelah kepergian saya. Para pemain harus disiplin datang lebih awal untuk latihan dan ke gym. Menjaga standar tinggi sangat penting bagi perkembangan klub yang stabil.”
“Semua rekan setim memiliki tujuan yang sama selama satu dekade terakhir. Semua saling mengingatkan jika ada performa yang tidak tepat. Saya benar-benar berharap budaya tim yang baik ini akan terus terjaga dan para pemain tetap bersatu.”
Setelah memutuskan meninggalkan klub, Salah merasa berat melihat Liverpool menghadapi masalah di bawah Arne Slot, sembari menyampaikan pikiran terakhirnya dengan penuh ketulusan.




