Peringkat FIFA: ke-63
Populasi: sekitar 11 juta
Grup: Grup J (Argentina, Aljazair, Austria, Yordania)
Perjalanan lolos
Sepak bola Yordania telah menunggu hari ini selama 40 tahun.
Sejak pertama kali tampil di Kualifikasi Piala Dunia pada 1986, Yordania terus berkutat di level kedua hingga ketiga Asia. Momen terdekat mereka terjadi pada 2014—mereka melaju ke play-off antarkonfederasi, tetapi kalah dari Uruguay.
Pada 6 Juni 2025, Yordania memastikan finis di dua besar pada putaran ketiga, dan untuk pertama kalinya lolos ke putaran final Piala Dunia. Mereka menjadi tim baru Asia berikutnya setelah Uzbekistan di era perluasan.
Patut dicatat, Yordania menembus final Piala Asia 2024. Meski akhirnya kalah dari Qatar, mereka sudah membuktikan bahwa kebangkitan tim ini bukan kebetulan.
Tokoh kunci
Poros permainan Yordania adalah Musa Al-Taamari, yang membela Rennes di Ligue 1, sekaligus menjadi inti absolut dan kapten tim. Selama Kualifikasi Piala Dunia, ia mencatat kontribusi serangan tertinggi di tim.
Sayangnya, top skor tim, Yazan Al-Naimat, dipastikan absen di Piala Dunia setelah mengalami cedera ligamen krusiatum parah pada Desember 2025.
Pelatih kepala mereka adalah Jamal Sellami, dan dalam daftar awal 30 pemain yang diumumkannya, para pemain abroad termasuk Yazan Al-Arab yang bermain untuk FC Seoul, serta Nizar Al-Rashdan dari Qatar SC.
Gaya bermain Yordania digambarkan media sebagai “lari tanpa lelah dan organisasi bertahan”, lalu bertransisi cepat dalam serangan balik. Taamari adalah titik ledak utama dalam skema counter attack.
Prospek Piala Dunia dan sudut pandang taruhan
Keberuntungan Yordania di Grup J tidak terlalu bagus—mereka satu grup dengan juara bertahan Argentina. Aljazair dan Austria juga merupakan lawan yang sangat sulit ditaklukkan.
Namun keunggulan Yordania adalah: tidak ada yang benar-benar mengenal mereka. The Athletic menyebut Yordania “rapat dan sulit ditembus”. Jika bisa mencuri satu hasil imbang dari Aljazair atau Austria, itu sudah menjadi sukses besar.
Dari sisi taruhan, saat menghadapi Argentina, handicap kemungkinan besar akan berada di atas dua gol untuk Yordania—juara bertahan biasanya tidak tampil habis-habisan pada laga pertama fase grup, sehingga opsi underdog layak dipertimbangkan. Saat melawan Aljazair dan Austria, handicap Yordania di bawah satu gol juga patut diperhatikan.
Kesimpulan singkat: finalis Piala Asia dengan Taamari sebagai pemimpin, Yordania bukan datang hanya untuk meramaikan.
4. Uzbekistan: Serigala Putih Asia Tengah, Akhirnya Menembus Dinding Itu
Peringkat FIFA: ke-57
Populasi: sekitar 37,54 juta
Grup: Grup K (Portugal, Kolombia, Kongo, Uzbekistan)
Perjalanan lolos
Sepak bola Uzbekistan sudah menunggu hari ini terlalu lama.
Sejak merdeka, Uzbekistan selalu menjadi kekuatan kelas dua di sepak bola Asia—selalu mampu melaju hingga fase akhir kualifikasi, tetapi selalu gagal mendapatkan tiket ke Piala Dunia. Pada 2006 dan 2014, mereka sama-sama tersingkir di play-off. “Hampir sampai” seolah menjadi takdir tim ini.
Pada 6 Juni 2025, Uzbekistan bermain imbang 0-0 di markas Uni Emirat Arab dan memastikan posisi kedua di Grup A putaran ketiga dengan 18 poin, serta lolos satu laga lebih awal. Mereka menjadi negara pertama dari lima negara Asia Tengah yang lolos ke Piala Dunia.
Kebangkitan Uzbekistan bukan kebetulan. Selama bertahun-tahun mereka serius membangun pembinaan usia muda: juara Piala Asia U-20 pada 2023, runner-up Piala Asia U-23 2024 sekaligus pertama kali lolos ke Olimpiade, lalu pada April tahun ini kembali merebut gelar juara Asia U-17 di Arab Saudi setelah 13 tahun.
Tokoh kunci
Uzbekistan memiliki seorang bintang muda super yang sedang naik daun di Liga Inggris:
Abdukodir Khusanov: 21 tahun, bek tengah Manchester City, dan menjadi pemain Uzbekistan pertama yang tampil di Premier League. Di panggung Piala Dunia, ia akan menjadi poros utama lini pertahanan.
Selain itu, lini depan mereka diperkuat Shomurodov yang bermain untuk Roma, menjadi jaminan gol tim. Gelandang sentral Akhmedov juga punya pengalaman yang sangat matang.
Prospek Piala Dunia dan sudut pandang taruhan
Grup K berisi dua raksasa, Portugal dan Kolombia, sementara Kongo juga merupakan tim Afrika yang sangat kuat secara fisik. Peluang Uzbekistan untuk lolos sangat berat.
Namun keunggulan mereka tetap sama: tidak ada yang benar-benar mengenal mereka. Jika lini belakang yang dipimpin Khusanov mampu menahan tekanan Kolombia, peluang untuk mencuri poin tetap terbuka.
Dari sisi taruhan, saat menghadapi Portugal, handicap kemungkinan berada di sekitar dua gol untuk Uzbekistan—opsi underdog layak dipertimbangkan karena Portugal sering tampil lambat di fase grup. Melawan Kongo, duel langsung antara dua tim debutan bisa menjadi kesempatan terbaik Uzbekistan untuk meraih poin. Pilihan under adalah opsi yang lebih aman.
Kesimpulan singkat: dengan bek Manchester City sebagai poros pertahanan dan lini depan milik Roma, tim Asia Tengah ini adalah yang paling kuat secara di atas kertas di antara empat tim debutan.
Nasib bersama para pendatang baru: Menang satu laga saja sudah jadi kemenangan
Bagi keempat tim yang baru pertama kali tampil ini, kenyataan pahitnya adalah: mereka hampir mustahil menjadi juara, bahkan untuk lolos fase grup pun sangat berat.
Namun makna perluasan peserta memang bukan untuk memberi lebih banyak tim kesempatan menjadi juara. Melainkan untuk memberi lebih banyak negara kesempatan berdiri di panggung dunia.
Anak-anak Curacao dulu hanya bisa menonton Piala Dunia lewat televisi. Sekarang, mereka bisa menunjuk layar dan berkata—itu tim kami.
Para penggemar Uzbekistan sudah terlalu sering merasakan patah hati karena “hampir sampai”. Sekarang, akhirnya mereka bisa berdiri dengan bangga di atas rumput Piala Dunia.
Bagi para tim baru ini, target di Piala Dunia 2026 Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sangat sederhana: menang satu kali, meski hanya satu kemenangan.
Itu akan menjadi pesta bagi seluruh bangsa.
Dan bagi Anda, seorang petaruh yang menatap handicap—itu bisa saja menjadi biaya belajar yang tak terduga.